DIY Meraih 3 Penghargaan Kalpataru

Penghargaan Kalpataru diberikan kepada masyarakat baik itu perorangan ataupun kelompok atas upaya kegiatan yang dilakukan untuk menyelamatkan lingkungan. Kalpataru memiliki beberapa katageri, diantaranya Perintis Lingkungan, Penyelamat Lingkungan, Pengabdi Lingkungan dan Pembina Lingkungan.  Tahun ini DIY meraih 3 penghargaan Kalpataru tingkat nasional atas nama Juwari (Selopamioro, Imogiri, Bantul), Widodo SP MSc (Gadingsari, Sanden,  Bantul) dan Kelompok Tani Ngudi Rejeki (Nglegi, Patuk, Gunungkidul).

Sebagai petani, Juwari 56 tahun dari Dusun Nawungan 1, Desa Selopamioro, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta Juwari dapat mengatasi permasalahan kekurangan air untuk pertanian melalui pemanenan air hujan dengan sistem embung. Dengan mengandalkan hidupnya dari ketersediaan air untuk lahan pertaniannya, Juwari memanen air hujan dengan embung dan mengatasi air untuk pertanian. Sejak tahun 2011 hingga 2018 Juwari telah membangun 440 embung dengan kapasitas rata-rata 50 m3 air untuk mengairi lahan pertanian seluas 105 ha. Ketersedian air dari embung juga menginspirasi Juwari untuk mengembangkan pertanian organik. Semua upaya yang dilakukan Juwari menginspirasi masyarakat untuk lebih peduli dan turut serta melakuka perbaikan dan pemeliharaan lingkungan. Pembuatan embung telah berhasil menjamin ketersedian air untuk pertanian, dan mendorong perkembangannya pertanian organik yang dapat menjaga kelestarian unsur hara dan stabilitas lahan serta mengurangi munculnya varian hama. Kerja keras tanpa pamrih dan keberhasilan Juwari memperbaiki kondisi lingkungan di Desa Selopamioro membawanya mendapatkan penghargaan Kalpataru tingkat Kabupaten Bantul dan Provinsi DIY untuk kategoro Perinis Lingkungan.

Sebagai Koordinator Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (PPOPT) Wilayah Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Widodo memeberikan motivasi dan inspirasi bagi para petani di wilayah Kabupaten Bantul untuk menerapkan sistem pertanian ramah lingkungan. Figur teladan ini juga turut membidani lahirnya petani Agen Hayati Bukan Pestisida yang berkontribusi mengamankan produksi pangan nasional. Sebagai seorang Aparatur Sipil Negara (ASN), Widodo bertekad melaksanakan tugas pokok dan fungsinya dengan baik, yaitu dengan mengamankan prodiksi pangan nasional di wilayah Kabupate Bantul. Salah satu kelompok tani binaan Widodo di Dusun Karangploso, Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul adalah Kelompok Tani Sidomulyo beranggotakan 68 orang yang menjadi petani Agen Hayati Bukan Pestisida pada tahun 1986. Kelompok Tani Agen Hayati di Desa Nawungan yang dibentuk juga berhasil mengelola lahan kritis menjadi lahan budidaya bawang merah yang 90% menggunakan biopestisida dan pupuk organik dari kotoran hewan dengan hasil yang memuaskan. Pada tahun 2015, Widodo membentuk Regu Perlindungan Tanaman (RPT) Swakarsa yang beranggotakan sebanyak 50 orang yang bertugas secara swadaya melindungi tanaman dari hama dan penyakit tanaman secara dini sehingga tidak meluas. Widodo telah berhasil membangun kesadaran terhadap lingkungan di kalangan petani dan generasi penerus. Selain membantu tugas dan program pemerintah, Widodo juga menumbuhkan rasa gotong royong dan jiwa nasionalisme masyarakat.

Kelompok Tani Ngudi Rejeki di Dusun Gedoro, Desa Ngelegi, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta berhasil mendapatkan Kalpataru Penyelamat Lingkungan. Kelompok Tani yang dipimpin oleh  Sigit berdirinya pada tanggal 12 Desember 1979 ini telah menghijaukan kawasan Dusun Gedoro. Hasil dari kegiatan tersebut adalah munculnya lima aliran sungai kecil dan delapan mata air yang digunakan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, termasuk untuk pertanian dan peternakan. Dusun Gendoro merupakan bagian dari Desa Nglegi yang terletak di sebelah barat laut, di ketinggian 500-700 meter di atas permukaan laut. Dusun gedoro seluas 140 ha terdiri atas 30 ha perkarangan, 30 ha sawah, 70 ha tegalan dan 10 ha permukiman, dan areal lainnya. Dusun ini di huni oleh 54 KK yang terdiri dari 92 laki-laki dan 100 perempuan. Desa Nglegi terkenal sebagai salah satu desa di Kabupaten Gudunungkidul dengan kekeringan yang sulit ditaklukan. Pada tahun 2018, sebanyak 55 petani telah bergabung dalam kelompok tani ngudi rejeki. Perilaku perduli lingkungan yang terbentuk semakin mendorong aktivitas-aktivitas yang lebih ramah lingkungan. Pemeliharaan terasering terus dilakukan secara berkala meskipun tanaman telah tumbuh besar. Sampah organik dan anorganik mulai dikelola dan dimanfaatkan sebagai pupuk dan kerajinan daur ulang lainnya. Keberadaan hutan juga telah mengembalikan satwa-satwa yang hilang selama ini, seperti burung punglor, jalak, kepondang, dan perkutut. Motivasi untuk melestarikan lingkungan bukan hanya dari ketua kelompok tani, tapi juga dari seluruh anggota, dan di dukung oleh masyarakat dan pemuda yang tergabung dalam kelompok karng taruna. Kegiatan kelompok ini jugatelah ditiru oleh Kelompok Tani Sedyo Mulyo di Dusun Nglapar, Desa Nglegi. Masyarakat dari tempat lain juga mulai banyak yang berkunjung ke Desa Gedoro, baik sekedar nelihat-lihat maupun belajar tentang lingkungan. Hal ini menjadi potensi ke depan untuk pengembangan wisata edukasi.

 

Penulis : Dessy Wulansari & Ella Ulya Ayzuari.

Mahasiswa Magang Universitas Muhammdiyah Yogyakarta.