Konservasi Pantai

Ketika orang berkunjung ke pantai, hampir sebagian besar memiliki tujuan ingin menikmati pemandangan atau keindahan alam. Semakin unik pemandangan alam yang terdapat pada suatu pantai, maka akan semakin menambah daya pikat orang untuk mengunjunginya. Sampai saat ini, pantai dipandang sebagai obyek wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi dan sebagai lokasi yang representatip untuk menggelar berbagai acara, baik dengan keluarga maupun rekan bisnis serta kolega. Tak pelak lagi, pantai merupakan tempat yang cukup ideal untuk melakukan berbagai kegiatan. Di satu sisi, kehadiran banyak orang tersebut akan menghasilkan sisi positip berupa meningkatnya pendapatan masyarakat maupun PAD, namun di lain pihak akan muncul dampak negatip yang perlu mendapatkan penanganan yang serius.

Beberapa kasus kerusakan pantai akibat “tangan-tangan jail” pengunjung seringkali masih ditemukan, seperti pengambilan pasir (putih), pengambilan karang, corat-coret dan buang sampah di sembarang tempat dan lain-lain. Akibat yang ditimbulkan tentu saja akan mengganggu fungsi pantai itu sendiri dan pengguna pantai yang lain, seperti penyu misalnya. Beberapa kali diberitakan akan adanya penyu yang mendarat dan bertelur di pantai Samas, Pandansimo maupun Trisik, hal itu menunjukkan bahwa pantai-pantai tersebut cocok dan disukai oleh penyu sebagai lokasi ideal dalam mengembangbiakkan keturunannya. Mereka para penyu mendarat di suatu lokasi pantai dengan mengandalkan naluri untuk mencari lokasi yang cocok dan aman, sehingga apabila lokasi tersebut dirasa tidak aman, mereka akan mencari tempat lain yang sesuai. Fenomena terjadinya pendaratan penyu tersebut kiranya telah menjadikan perhatian berbagai pihak baik pemerintah maupun masyarakat.

Pemerintah melalui Keputusan Presiden Nomer 32 Tahun 1990 Tentang Pengelolaan Kawasan Lindung dan Peraturan Pemerintah Nomer 26 tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional telah menetapkan Sempadan Pantai sebagai Kawasan Lindung Setempat yang kriterianya adalah daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai minimal 100 meter dari titik pasang tertinggi kearah darat (pasal 14 Keppres 32/1990). Pada pasal sebelumnya (ps 13) disebutkan bahwa Perlindungan Sempadan pantai Dilakukan Untuk Melindungi Wilayah Pantai Dari Kegiatan yang Mengganggu Kelestarian Fungsi Pantai. Sudah semestinyalah sempadan ini “bebas dari aktifitas penggangg” fungsi pantai, sehingga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan umum (public beach), dalam arti tidak dikuasai oleh perorangan.

Kelompok-kelompok masyarakat yang peduli terhadap kelestarian pantai di DIY sampai saat ini sudah cukup banyak, sebut saja Kelompok Konservasi Penyu Abadi yang diketuai oleh Joko Samodro, bermarkas di wilayah Pantai Trisik yang sudah berkiprah sejak 2004 dan telah berhasil melepaskan anakan penyu (tukik) sebanyak kurang lebih 5000 ekor. Untuk wilayah Bantul, kelompok masyarakat yang eksis dalam konservasi penyu adalah Forum Konservasi Penyu Bantul (FKPB) bentukan tahun 2002, yang sampai tahun 2012 dan sudah melepasliarkan 5300 lebih Penyu dan Tukik kembali kehabitatnya. FKPB yang diketuai oleh Rudjito ini berada di Pantai Samas, bersama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta, Lembaga Swadaya Lingkungan dan elemen masyarakat lainnya berhasil melepasliarkan Penyu dan Tukik berkisar antara 150 hingga 300 setiap tahunnya. Di hamparan pantai ini, sering digunakan sebagai lokasi bertelur sejumlah penyu langka seperti Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Blimbing (Dermochelys coriacea), dan Penyu Lekang. Selain 2 kelompok masyarakat tersebut, di sepanjang pantai DIY masih banyak dijumpai kelompok-kelompok lain yang memliki kepedulian terhadap konservasi pantai (blh-bwi)