MENGENAL MANGROVE DI KULON PROGO

Tgl .

Kawasan pesisir Kulon Progo yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia meliputi 4 (empat) kecamatan pesisir yaitu Kecamatan Temon, Wates, Panjatan dan Galur, dimana garis pantai yang terbentang sepanjang 24,7 km.

Pesisir merupakan daerah dengan banyak kepentingan. Bermacam-macam fungsi yang ada padanya menyebabkan daerah ini bisa berkembang dengan sangat maju atau sebaliknya menjadi rusak dan saling tumpang tindih kepentingan.

Pemerintah Kabupaten Kulon Progo telah melakukan beberapa hal terkait upaya perlindungan dan pengendalian kerusakan di wilayah pesisirnya, salah satunya adalah pengembangan mangrove di wilayah Kecamatan Temon.

Desa Jangkaran di wilayah Kecamatan Temon merupakan salah satu desa pesisir penting di Kab. Kulon Progo, yang mempunyai luas 365,64 Ha. Setidaknya terdapat tiga lokasi vegetasi mangrove di Desa Jangkaran yakni Nglawang, Pasir Kadilangu dan Pasir Mendit.
Nglawang yang berada pada Muara Sungai Bogowonto dengan jenis vegetasi alami sudah jarang ditemukan. Vegetasi hasil penanaman tercatat pernah dilaksanakan pada tahun 1995 hasil kerjasama Dinas Pertanian Kulon Progo dengan UGM. Penanaman menggunakan jenis Rhizophora mucronata yang ditanam sepanjang sisi timur dari muara sungai sejumlah 3.000 batang. Sayangnya, hasil pengamatan pada Bulan Februari 2012, hanya sekitar 300-an atau 10% saja vegetasi yang masih tumbuh, dan itupun tidak selebat kebanyakan pertumbuhan dari Rhizophora spp.

Sampai saat ini, ketinggian rata-rata vegetasi hanya 3 (tiga) meter dari tanah. Sebagian kecil pertumbuhan cukup tinggi pada kisaran 5 (lima) m. Cukup kecil jika dibandingkan dengan pertumbuhan normal pohon yang bisa mencapai 1 m per tahun pada kondisi lahan yang cocok. Arus sungai yang kuat disekitar muara sungai sangat mempengaruhi pertumbuhan dari bibit mangrove yang ditanam. Dari segi fisik, arus yang kuat sangat kontraproduktif dengan pertumbuhan awal bibit, karena arus yang kuat cenderung tidak memberikan sisa bahan organik yang diperlukan bibit untuk berkembang. Ini terlihat dari proporsi substrat di muara sungai ini sebagian besar adalah pasir dengan sedikit lumpur. Pasir cenderung mempunyai kandungan hara yang lebih sedikit daripada lumpur atau tanah kebanyakan. Di sisi yang lain, system perakaran bibit tanaman muda yang belum sempurna tidak mampu membendung derasnya arus air yang ada. Akibatnya adalah beberapa kegiatan penanaman yang dilakukan sering mengalami kegagalan akibat terjangan arus sungai yang kuat dan ini terjadi karena cuaca yang cenderung ekstrem.
Meskipun demikian, keberadaan mangrove di muara Sungai Bogowonto yang berbatasan langsung dengan lahan pertanian ini sangat membantu masyarakat sebagai perlindungan pertanian sawah dari ancaman erosi air sungai.

Sisi positif lain dari kegiatan penanaman mangrove adalah adanya perkembangan ekosistem muara sungai. Seperti terlihat keberadaan ikan di muara sungai. Hal ini merupakan efek positif lanjutan dari kegiatan replanting yang dilakukan.
Wilayah yang terdapat mangrove selain Nglawang adalah Pasir Mendit yang berada di ujung barat Desa Jangkaran pada koordinat S 07o53’44.4” E110o01’41.1” Vegetasi mangrove asli yang ada di daerah ini adalah Nipah (Nypa fruticans), Pandan (Pandanus tectifolius), Bogem (Sonneratia alba), Bakau (Rhizophora spp.), Api-api (Avicennia marina) dan juga beberapa mangrove jenis asosiasi seperti Jeruju (Acanthus tectifolius), Ketapang (Thalassaphia catappa), Biduri (Calonthropis gigantean), Waru laut (Hibiscus tiliaceus) dan Ipoomea pres caprae. Tingginya komposisi vegetasi yang ada di Pasir Mendit dimungkinkan karena kondisi lingkungan yang medukung keberadaan mangrove. Kondisi pesisir relatif terlindung dari ombak laut. Vegetasi mangrove yang ada rata-rata terdapat jauh ke arah daratan sekitar 10 – 30 meter ke arah daratan, yang terlindung dengan adanya gumuk pasir di sebelah selatan. Keadaan substrat sendiri relatif subur karena terus endapan asupan hara dari aliran sungai kecil di sepanjang daerah tersebut.

Tidak salah jika daerah ini menjadi satu prioritas penting dalam usaha replanting mangrove di Kulon Progo. Peluang keberhasilan penanaman relatif lebih tinggi daripada daerah lain. Selain itu untuk wilayah Pasir Kadilangu, Jangkaran juga merupakan wilayah penting lain yang membentuk luasan mangrove di Kulon Progo. Jenis yang ditanam antara lain : Jeruju, Temumul, Apel-apelan, Asem Kranji, dan Waru. Kondisi wilayah Pasir Kadilangu sebagian merupakan petakan tambah, sungai dan lahan kosong, dan mangrove ditanam diantara lahan tambak dan lahan kosong yang ada.
Dalam setiap kegiatan lingkungan, baik itu penanaman pohon, rehabilitasi lahan, pencegahan abrasi atau yang lain, sangat diperlukan keterlibatan masyarakat. Karena tanpa mereka segala upaya pelestarian lingkungan yang dilakukan oleh pemerintah tidak akan mendapatkan hasil yang optimal. Sebagai salah satu upaya pelibatan masyarakat tersebut adalah dalam setiap kegiatan lingkungan disertai dengan kegiatan peningkatan perekonomian. Hal ini bermaksud agar kegiatan lingkungan akan mempunyai multiplier effect berupa peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar. Dapat kita contohkan dengan adanya mangrove yang ditanam di pesisir ataupun muara sungai, maka akan berkembang banyak jenis ikan. Meskipun pada kenyataannya masih banyak masyarakat sekitar yang belum peduli, karena kita pun juga masih repot untuk menghitung perbandingan bibit ikan yang lahir pada perairan sebelum dan sesudah replanting mangrove. Untuk itu, pemerintah daerah melakukan restocking di area penghijauan mangrove dengan bibit kepiting. Kepiting ini ditebar dalam rangka mengembalikan kualitas ekosistem di lingkungan baru hasil penanaman mangrove. Penebaran dilakukan pada lingkungan pohon mangrove ketinggian 10-an meter, dengan perbandingan proporsi pohon mangrove dengan kepiting = 15 : 1.
Diharapkan, kepiting ini akan menyeimbangkan jaring dan rantai makanan yang pastinya telah berubah setelah adanya penanaman mangrove. Pada sisi lain, keberadaan kepiting diharapkan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, tanpa menebang mangrove lagi.
Dengan melihat kondisi dan potensi wilayah pesisir di Kulon Progo, pemerintah daerah memandang perlu untuk melakukan langkah strategis yang dapat menjamin terselenggaranya perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan ekosistem mangrove dan sempadan pantai sebagai sumber daya di wilayah pesisir dan kekayaan alam yang bernilai tinggi. Kebijakan yang telah ditetapkan adalah Pembentukan Kelompok Kerja Mangrove dan Sempadan Pantai dengan Keputusan Bupati Kulon Progo Nomor : 360 Tahun 2011. Pokja yang terdiri atas unsur pemerintah, Akademisi, LSM & swasta ini mempunyai tugas menetapkan arah kebijakan pengelolaan mangrove & sempadan pantai antara lain :

  1. Menyusun rencana kegiatan pokja mangrove dan sempadan pantai di Kabupaten Kulon Progo;
  2. Memfasilitasi upaya penerapan kegiatan pengelolaan mangrove dan sempadan pantai berdasarkan Strategi Pengelolaan Ekosistem Mangrove dan Sempadan;
  3. Menyediakan data dan informasi terkait pengelolaan mangrove dan sempadan pantai di Kabupaten Kulon Progo;
  4. Menginventarisir permasalahan dan memberikan alternatif pemecahan masalah dalam pengelolaan ekosistem mangrove dan sempadan pantai; dan
  5. Melakukan koordinasi dan konsultasi dengan Pokja Mangrove Daerah Istimewa Yogyakarta dan Pokja Mangrove Nasional.

Dengan aktifasi kelompok kerja mangrove dan sempadan pantai Kabupaten Kulon Progo diharapkan mampu untuk mengendalikan kerusakan ekosistem mangrove dan sempadan sungai sehingga lingkungan pesisir kita tetap lestari. (Sumber Penulisan : Pokja Mangrove dan Sempadan Pantai Kab. Kulon Progo.(blh-dyah)

Trackback from your site.

Comments (2)

  • meilan putri

    |

    kondisi mangrove yang terdapat di kawasan pasirmendit erlu perhatian lebih
    karena lahan mangrove telah banyak beralih fungsi menjadi tambak udang
    terdapat vegetasi Nipah (Nypa fruticans) yang telah dibakar dan digantikan dengan tanaman singkong milik warga
    diharapkan pemerintah melakukan tindakan konservasi mangrove lebih lanjut serta sosialisasi terhadap warga sekitar mengenai penting nya mangrove bagi wilayah pesisir pantai

    Reply

    • Teno Sulistyanto

      |

      silahkan informasikan hal tersebut ke Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Kulon Progo untuk di tindak lanjuti. Sehingga dapat di upayakan sosialisasi ke masyarakat disekitar Pantai Pasir Mendit

      Reply

Tulis Komentar